INTEGRATED SYSTEM Balai KSDA Bengkulu

Search Here

TINGKATKAN PNBP, BKSDA BENGKULU TAMBAH SARPRAS WISATA DI TWA PANTAI PANJANG DAN PULAU BAAI

Bengkulu, 04 Oktober 2018: Secara geografis Provinsi Bengkulu berada di pesisir barat Pulau Sumatera, menjadikan Bengkulu kaya akan objek wisata pantai salah satunya Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai. Didukung dengan lokasi yang berada di Ibukota Provinsi Bengkulu, potensi kunjungan wisata ke TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai tinggi. Khususnya bagi masyarakat Kota Bengkulu dan sekitarnya yang ingin menikmati suasana alami pantai dengan hutan cemara dan hutan mangrove yang tumbuh di dalamnya serta tidak mengeluarkan kocek yang besar untuk mengunjunginya, maka TWA ini solusinya.

Melihat potensi dimasa yang akan datang untuk peningkatan PNBP dari sektor wisata yang cukup menjanjikan, maka BKSDA Bengkulu terus berupaya meningkatkan fasilitas dan sarana prasarana wisata di dalamnya. Peningkatan fasilitas dan sarpras wisata yang ditingkatkan dan ditambah di tahu 2018 ini adalah sarpras pada Camping Ground berupa pembangunan pentas pertunjukan yang dapat dimanfaatkan bagi yang melakukan aktifitas di areal camping, dan juga dibangunnya mangrove track yang melintasi hutan mangrove yang tumbuh alami di sekitar muara sungai Jenggalu.

Dengan penambahan atau peningkatan fasilitas/sarpras wisata ini para pengunjung yang hobi dengan dunia fotografi dapat lebih dimanjakan dalam menikmati dan mengabadikan suasana alami dari TWA. Harapan kedepannya semua masyarakat khususnya pengunjung dapat menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun agar TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai sehingga bisa menjadi salah satu icon wisata yang dapat membanggakan Bengkulu.

Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 02 Mar 2019

SAMPLING GENETIK GAJAH DI TWA SEBLAT

Bengkulu, 29 September 2018. Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi, salah satunya adalah menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang memungkinkan dalam pemenuhan kebutuhan manusia.

Habitat gajah yang tersisa di Provinsi Bengkulu berada di bentang alam (landscape) Kerinci Seblat, yakni membentang dari  kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat hingga Taman Nasional Kerinci Seblat. Diantara kawasan konservasi tersebut didominasi oleh areal dengan fungsi hutan produksi dan perkebunan. Kondisi saat ini habitat alami gajah ini telah terfragmentasi dan mengakibatkan terpecahnya kelompok besar gajah sumatera menjadi kelompok-kelompok kecil yang hanya terdiri dari beberapa individu saja. Ancaman lainnya adalah adanya Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dan Ijin Usaha Pertambangan di hutan produksi yang merupakan koridor gajah.  Hal ini menempatkan populasi gajah sumatera di Bengkulu pada posisi beresiko sangat tinggi dan mengarah pada kepunahan.

Bentuk upaya BKSDA Bengkulu dalam penyelamatan gajah dan habitatnya adalah berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait menginisiasi pembentukan ekosistem esensial yang bernilai konservasi tinggi sebagai koridor gajah. Salah satunya adalah bekerjasama dengan Universitas Bengkulu melakukan sampling genetika pada gajah di Taman Wisata Alam (TWA) Seblat. Sampling genetika dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekerabatan gajah dari berbagai kelompok di bentang alam Seblat, selain itu juga untuk mengetahui jumlah individu gajah yang masih tersisa di Provinsi Bengkulu. Gajah–gajah binaan Pusat Konservasi Gajah (PKG) TWA Seblat merupakan gajah tangkapan dari alam saat konflik gajah – manusia yang terjadi pada tahun 90-an yang terjadi di Kabupaten Mukomuko dan Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu. Diharapkan data variasi genetik gajah yang diperoleh akan menjadi acuan untuk melihat tingkat kekerabatan gajah di bentang alam Seblat serta dapat sebagai acuan untuk kebijakan terkait strategi konservasi gajah di masa yang akan datang.

Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 02 Mar 2019

BKSDA BENGKULU TURUT MERIAHKAN FESTIVAL TABUT 2018

Bengkulu, 18 September 2018. Event pariwisata tahunan Provinsi Bengkulu “Festival Tabut” yang dihelat pada tanggal 10 – 20 September 2018 (1-10 Muharram) resmi dimulai. Festival ini telah masuk dalam Calendar of Event (CoE) 2018 Kementerian Pariwisata sebagai salah satu agenda 100 Wonderful Indonesia. Event ini merupakan tradisi budaya dan aset seni regional yang terus berkembang dan dipertahankan keberadaannya secara turun menurun dan setiap tahun pada awal bulan Islam Muharam.

Festival itu sendiri diadakan untuk mengingat tragedi yang menimpa Hasan Husein (cucu nabi Muhammad), yang terjadi pada bulan Muharam di tahun 61 kalender Islam. Tradisi pengorganisasian festival ini dibawa ke Indonesia oleh orang India dari wilayah Punjab ke Bengkulu pada tahun 1336. Namun pasukan Gurkha Inggris juga membawa tradisi tersebut pada tahun 1685.

Beberapa acara diselenggarakan selama festival Tabut antara lain: Pameran, Lomba musik dol dan tari kreasi tabut, Upacara manjara dan pagelaran ethnik budaya, rangkaian arak jari-jari dan festival ikan-ikan dan puncaknya adalah pelepasan tabut menuju karbala dan dilanjutkan dengan tabut tebuang. Sebagian besar kegiatan festival diadakan di dan sekitar Balai Raya Semarak Bengkulu, tempat tinggal gubernur,  lapangan Polda Bengkulu.

Memeriahkan festival ini BKSDA Bengkulu turut berpartisipasi dalam kegiatan pameran untuk mensosialisasikan dan mempromosikan kegiatan-kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (KSDAHE) di Provinsi Bengkulu dan Lampung. Dan untuk memperkenalkan sejak dini tentang pentingnya KSDAHE, diadakan kuis dengan hadiah menarik bagi anak-anak pengunjung stand pameran BKSDA Bengkulu. Sedangkan untuk yang hobi selfie/wefie disediakan photobooth dengan latar belakang kawasan TWA Bukit Kaba dengan kawahnya, TWA Seblat dengan gajah sumateranya dan CA Danau Dusun Besar.

Semoga upaya penyebaran informasi dan publikasi akan pentingnya konservasi alam di event ini dapat meningkatkan peran aktif dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian alam.

Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 02 Mar 2019

KOORDINASI WCS-IP UNTUK SELENGGARAKAN PELATIHAN SATGAS PENANGGULANGAN KONFLIK SATWA LIAR

Bengkulu, 13 September 2018. Bertempat di Kantor BKSDA Bengkulu, LSM ‘Wildlife Conservation Society–Indonesia Program (WCS-IP) berkoordinasi dengan BKSDA Bengkulu sehubungan dengan rencana kegiatan Pelatihan Satgas Penanggulangan Konflik antara Manusia dengan Satwa Liar bagi masyarakat di bentang alam (landscape) Bukit Barisan Selatan (BBS) dan Bukit Balai Rejang Selatan (BBRS) yang merupakan wilayah pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah II Balai KSDA Bengkulu dan Seksi Konservasi Wilayah IV Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Provinsi Bengkulu.

Bentang alam BBRS merupakan salah satu dari 12 bentang alam konservasi harimau (Tiger Conservation Landscape/ TCL) yang menjadi prioritas regional untuk Indonesia. Pada bentang alam BBS dan BBRS yang berada di tiga provinsi, yakni Bengkulu, Lampung dan Sumatera Selatan, jumlah desa terdampak konflik sebanyak 23 desa. Berdasarkan data WCS-IP bahwa selama periode tahun 2008-2018 telah terjadi konflik harimau sebanyak 208 kali, mengakibatkan korban manusia meninggal 5 orang, korban ternak 297 ekor serta korban harimau yang mati karena konflik sebanyak 3 ekor dan 2 ekor ditangkap dari habitat untuk dievakuasi.

Guna memperkuat implementasi Permenhut Nomor: P.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar maka pemberdayaan, pelatihan dan penyadartahuan masyarakat di daerah rawan konflik satwa liar menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan mitigasi konflik antara manusia dengan satwa liar. BKSDA Bengkulu sangat mendukung rencana kegiatan pelatihan bagi masyarakat dari 12 desa terdampak konflik harimau tersebut, yang rencananya akan dilaksanakan di Desa Mekarjaya, Kecamatan Ulu Talo, Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu pada tanggal 25 – 27 September 2018 dengan narasumber dari BKSDA Bengkulu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Bengkulu, WCS-IP dan Praktisi Medik Veteriner.      

Diharapkan output dari pelatihan penanggulangan konflik satwa liar terhadap masyarakat dapat menjadi model kemandirian masyarakat desa, serta berpartisipasi aktif menanggulangi konflik satwa liar di wilayahnya. Selain itu pelatihan ini juga mendorong untuk pembentukan satgas penanggulangan konflik menjadi kelembagaan formal di tingkat desa sebagai akses untuk mendapatkan dukungan teknis dan non teknis dari internal dan eksternal desa. Sehingga kemandirian yang telah terbangun dalam penanggulangan konflik satwa liar bisa berkelanjutan.

Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 02 Mar 2019

Copyright © 2017 - 2021 Balai KSDA Bengkulu. All rights reserved.