Harimau Sumatera (Panthera tigris sondaica) adalah simbol kekuatan alam Indonesia dan satu-satunya subspesies harimau yang masih hidup di Nusantara. Namun di balik keanggunannya, satwa ini menghadapi ancaman kepunahan yang semakin nyata. Sebagai predator puncak, keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Jika kita gagal menyelamatkannya, hilang pula salah satu kunci kesehatan hutan tropis Sumatera.
Populasi yang Terus Menyusut
Menurut IUCN Red List, harimau Sumatera telah dikategorikan sebagai Critically Endangered atau sangat terancam punah. Saat ini, jumlah populasinya di alam liar diperkirakan kurang dari 600 ekor. Penyebarannya terbatas di beberapa kawasan konservasi besar seperti Taman Nasional Kerinci Seblat, Gunung Leuser, Bukit Tigapuluh, dan sebagian kecil di wilayah hutan Bengkulu.
Dibandingkan dekade 1980-an saat jumlahnya masih ribuan, populasi harimau menurun drastis akibat deforestasi, perburuan liar, dan konflik dengan manusia.
Mengapa Harimau Sumatera Penting?
Sebagai predator puncak, harimau mengontrol populasi mangsa seperti rusa, babi hutan, dan satwa herbivora lainnya. Tanpa kehadiran harimau, keseimbangan ekosistem terganggu. Overpopulasi satwa mangsa dapat menyebabkan kerusakan vegetasi dan mengganggu rantai makanan secara keseluruhan.
Kehilangan harimau juga berarti kehilangan identitas. Harimau Sumatera adalah ikon budaya lokal dan satwa kunci dalam ekowisata berbasis alam. Keberadaannya bisa menjadi sumber edukasi dan ekonomi yang berkelanjutan jika dilindungi dengan baik.
Baca Juga: Menyelamatkan Satwa Langka Indonesia, Dari Orangutan Hingga Komodo
Ancaman Terbesar: Deforestasi dan Perburuan
1. Kerusakan Habitat
Deforestasi menjadi penyebab utama hilangnya habitat alami harimau. Hutan-hutan di Sumatera terus menyusut karena alih fungsi lahan menjadi kebun sawit, permukiman, dan pertambangan ilegal. Fragmentasi habitat membuat harimau kesulitan menjelajah, mencari mangsa, dan berkembang biak.
2. Perburuan Liar
Organ tubuh harimau seperti kulit, taring, dan tulang masih menjadi incaran perdagangan ilegal. Di pasar gelap, bagian tubuh harimau dijual untuk keperluan tradisional atau koleksi. Selain itu, banyak harimau tewas akibat jerat yang dipasang untuk satwa lain.
3. Konflik Satwa-Manusia
Ketika habitat menyempit, harimau terpaksa memasuki area pemukiman dan memangsa ternak. Ini memicu ketakutan warga dan tak jarang berakhir pada pembunuhan harimau secara ilegal. Kasus semacam ini tercatat beberapa kali terjadi di wilayah Mukomuko dan Rejang Lebong, Bengkulu.
Baca Juga: Mengapa Perambahan Hutan dan Perburuan Liar Harus Dihentikan?
Upaya Konservasi yang Dilakukan
Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan oleh BKSDA Bengkulu bersama mitra LSM dan komunitas lokal:
- Patroli pengangkatan jerat di kawasan konservasi.
- Evakuasi dan pelepasliaran harimau yang masuk ke pemukiman warga.
- Pemantauan dengan kamera trap dan drone untuk melacak pergerakan harimau.
- Pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya hidup berdampingan dengan satwa liar.
Meski begitu, tantangan di lapangan masih besar, terutama terkait anggaran, jumlah personel, dan penguatan hukum bagi pelaku perburuan.

Rangkuman Data (Estimasi)
Tahun | Estimasi Populasi | Sumber Referensi |
---|---|---|
1978 | ±1.000 ekor | [IUCN Tiger Status Report 1982] |
1990 | ±800 ekor | [Wikidata + WWF historical reports] |
2000 | ±700 ekor | [Fauna & Flora International (FFI), WWF] |
2010 | ±600 ekor | [IUCN Red List Assessment, 2013] |
2020 | ±500 ekor | [Mongabay, WWF Indonesia, IFAW] |
2024 | ±580 ekor | [Update Mongabay Mei 2025 + estimasi KSDAE Kementerian LHK] |
⚠️ Catatan:
- Tahun 2024 (580 ekor) adalah angka estimasi konservatif berdasarkan rata-rata dari beberapa sumber, termasuk laporan terbaru tahun 2025 yang menyebutkan angka mendekati 600.
- Tidak ada satu angka resmi final karena survei populasi harimau di alam dilakukan per zona konservasi dan bersifat estimatif.
Apa yang Bisa dilakukan?
Tidak semua orang bisa terjun langsung ke hutan, tetapi setiap individu tetap bisa berperan. Berikut beberapa hal nyata yang bisa kamu lakukan:
- Tidak membeli produk berbahan satwa liar, baik itu kerajinan dari kulit harimau atau hewan eksotis sebagai peliharaan.
- Laporkan aktivitas mencurigakan seperti perburuan atau penjualan satwa ke BKSDA atau pihak berwenang.
- Dukung program konservasi melalui donasi, kampanye sosial, atau menjadi relawan.
- Sebarkan edukasi lewat media sosial agar semakin banyak orang peduli.
- Dukung regulasi konservasi dan tolak kebijakan yang merusak hutan.
Harimau Sumatera bukan hanya warisan alam Indonesia, tetapi juga indikator kesehatan hutan. Jika kita gagal menyelamatkannya, itu berarti kita juga gagal menjaga lingkungan untuk generasi mendatang. Mari ambil peran, sekecil apa pun, untuk memastikan harimau tetap mengaum di hutan Sumatera.
Reff Sites
- https://www.fauna-flora.org/species/sumatran-tiger
- https://www.iucnredlist.org/species/15966/50659951
- https://news.mongabay.com/2025/05/sumatran-tiger-protection-needs-more-patrols-tougher-penalties-study-finds
- https://www.ifaw.org/animals/sumatran-tigers
- https://en.wikipedia.org/wiki/Sumatran_tiger