INTEGRATED SYSTEM Balai KSDA Bengkulu

Search Here

SECARA SWADAYA MASYARAKAT 3 DESA MENGELUARKAN JALAN YANG MASUK KAWASAN TWA BUKIT KABA

Bengkulu, 5 September 2019. Upaya-upaya penyelesaian permasalahan dalam pengelolaan kawasan konservasi terus dilakukan oleh BKSDA Bengkulu. Upaya penyelesaian dengan metode pendekatan, sosialisasi dan penyadartahuan terhadap masyarakat merupakan prioritas yang dilakukan oleh petugas resort di tingkat tapak. Dan upaya tersebut membuahkan hasil, pada hari jum’at 23 Agustus 2019 BKSDA Bengkulu yang diwakili oleh petugas Resort KSDA Bukit Kaba 1 mendampingi masyarakat yang akan melakukan pemindahan jalan yang dibuat masyarakat berada/melintas di dalam kawasan Taman Wisata Bukit Kaba menjadi ke luar kawasan. Dimana selama ini jalan tersebut digunakan masyarakat sebagai akses menuju lahan perkebunannya yang sebenarnya berada di luar kawasan.

Pemindahan jalan yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dan didukung juga Pemerintah Desa dari 3 Desa yang memanfaatkan yaitu Desa Suban Ayam, Desa Air Meles dan Desa Kali Padang Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Pemindahan jalan sepanjang 500 meter ke luar kawasan merupakan bentuk kesadaran masyarakat untuk mentaati aturan dan ikut berparan aktif dalam menjaga kawasan TWA Bukit Kaba. Manfaat kawasan yang sudah dirasakan masyarakat sebagai sistem penyangga kehidupan dalam mengatur tata air dan mencegah bencana banjir merupakan faktor penting yang mendorong masyarakat untuk dapat terlaksananya kegiatan ini. Sedangkan bekas jalan lama yang ditinggalkan akan dilakukan pemulihan ekosistem dengan melakukan penanaman kembali tanaman kehutanan bersama masyarakat.

Semoga dengan bersinergi antara Pemerintah dalam hal ini BKSDA Bengkulu dan masyarakat desa penyangga, pesan-pesan konservasi dalam menjaga eksistensi kawasan dapat terus ditingkatkan dan dirasakan manfaatnya.

Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 04 Jun 2020

TIM RESCUE SATWA BKSDA BENGKULU BERHASIL EVAKUASI BERUANG MADU TERJERAT

Bengkulu, 15 Juli 2019. BKSDA Bengkulu dalam hal ini Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II-Tais mendapat laporan dari masyarakat bahwa terdapat seekor Beruang Madu (Helarctos malayanus) dan masih dalam keadaan hidup terjerat tali nylon di perkebunan sawit warga tepatnya di Desa Puguk Kec. Seluma Utara Kab. Seluma Prov. Bengkulu. Dan dengan adanya laporan tersebut tim rescue satwa SKW II segera diturunkan ke lokasi.

Setibanya di lokasi, tim menjumpai satwa dilindungi tersebut masih aktif dan terus berusaha melepaskan jerat yang membelenggu. Jerat yang awalnya dipasang untuk menjerat hama babi hutan yang kerap merusak tanaman perkebunan, tanpa disangka menjerat beruang madu yang diperkirakan keluar dari kawasan hutan terdekat. Melihat satwa yang terjerat merupakan salah satu satwa dilindung dan perlu untuk diselamatkan, pemilik kebun langsung melaporkan kejadian tersebut kepada BKSDA Bengkulu.

Proses evakuasi berjalan dengan lancar tanpa kendala, dan selanjutnya satwa tersebut direlokasi ke kantor Balai KSDA Bengkulu untuk mendapatkan perawatan medis. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik sementara bahwa satwa beruang madu mengalami dehidrasi dan pembengkakan pada kaki depan bagian kanan karena jerat. Selanjutnya perawatan dan pengobatan satwa di Kantor Balai KSDA Bengkulu dilakukan oleh Tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Bengkulu yang terdiri dari doker hewan dengan dibantu oleh petugas fungsional PEH dan Polhut. Bila nantinya hasil observasi telah dinyatakan sembuh maka akan segera dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 04 Jun 2020

BKSDA BENGKULU TANDATANGANI RPP DAN RKT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SISTEM DETEKSI DINI ANCAMAN TSUNAMI SELAT SUNDA

Jakarta, 25 Maret 2019. Setelah ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama (PKS) pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan antara BKSDA Bengkulu dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam rangka Pembangunan Infrastruktur Sistem Deteksi Dini Ancaman Tsunami Selat Sunda untuk Mitigasi Bencana Gunung Anak Krakatau di Cagar Alam dan Cagar Alam Laut (CA dan CAL) Kepulauan Krakatau, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung pada 15 Maret 2019 yang lalu. Kepala BKSDA Bengkulu, Ir. Donal Hutasoit, M.E. bersama Direktur Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana – BPPT, Ir. Eko Widi Santoso, M.Si. kembali menandatangani dokumen lanjutan berupa Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang juga bertempat di ruang rapat Direktorat Jenderal KSDAE Blok I Lt.8 Gd. Manggala Wanabakti. Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh Direktur Jenderal KSDAE, Kepala Biro Humas KLHK, Direktur PIKA, Kasubdit PIKA, Kadishutprov Lampung, Kasubdit Direktorat KK dan Kepala SKW III-Lampung.

Pembangunan infrastruktur sistem deteksi dini ancaman tsunami yang dilakukan di CA dan CAL Kepulauan Krakatau bertujuan untuk mengurangi resiko atau dampak negatif bencana tsunami di Selat Sunda seperti yang terjadi pada 22 Desember 2018 yang lalu. Dimana bencana tsunami yang terjadi tidak didahului adanya gempa bumi. Sarpras yang akan dibangun adalah berupa Cable Based Tsunameter (CBT), dimana nantinya alat tersebut akan memberikan informasi dan peringatan dini terhadap bahaya tsunami akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Semoga dengan adanya alat ini dapat meminimalisir dampak akibat akibat erupsi. Dan pesan pentingnya adalah kesadaran kita semua untuk menjaga bersama-sama keberadaan dan fungsi adanya alat tersebut serta memahami bahwa Kepulauan Krakatau bukan tempat wisata dengan statusnya sebagai kawasan cagar alam.

Diposting oleh: Admin SITROOM, 29 Mar 2019

PEMBAHASAN TINDAK LANJUT EKF CA & CAL KEPULAUAN KRAKATAU PASCA ERUPSI

Bandar Lampung, 27 Februari 2019. Bertempat di ruang rapat Kantor Seksi Konservasi Wilayah III Lampung, rapat pembahasan tindak lanjut hasil Evaluasi Kesesuaian Fungsi (EKF) Cagar Alam dan Cagar Alam Laut (CA dan CAL) Kepulauan Krakatau dilaksanakan. Rapat dipimpin langsung oleh Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam, Ir. Listya Kusumawardhani, M.Sc. serta dihadiri oleh seluruh tim teknis dan pihak-pihak terkait lainnya.

Rapat diawali dengan presentasi yang menampilkan kronologis dan tahapan kegiatan EKF dan dokumentasi kondisi terkini Kepulauan Krakatau paska erupsi Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 lalu. Dilanjutkan dengan penyampaian pandangan dan saran oleh seluruh peserta yang hadir terkait hasil evaluasi dengan memperhatikan kondisi perubahan yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau.

Hal lain yang dibahas dalam rapat ini adalah permasalahan terkait pariwisata yang terjadi di kawasan CA dan CAL Kepulauan Krakatau dan dengan ditetapkannya Krakatau sebagai kawasan strategis prioritas nasional dan menjadi ikon wisata Provinsi Lampung dengan kegiatan tahunannya yaitu festival krakatau. Salah satu upaya BKSDA Bengkulu untuk menanggapi permasalahan itu dengan menerbitkan pengumuman penutupan dan larangan pemasaran paket wisata Krakatau juga menjadi topik bahasan.

Pada bagian akhir, disimpulkan beberapa kesepakan hasil rapat, di antaranya adalah hasil kajian tim teknis evaluasi kesesuaian fungsi CA dan CAL Kepulauan Krakatau yang disajikan dalam laporan akhir sudah tidak dapat lagi menjadi acuan bagi proses perubahan fungsi. Selanjutnya Balai KSDA Bengkulu diharapkan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi yang terjadi di CA dan CAL Kepulauan Krakatau.

Sumber: Sarifudin - PEH Balai KSDA Bengkulu

Diposting oleh: Admin SITROOM, 02 Mar 2019

Copyright © 2017 - 2020 Balai KSDA Bengkulu. All rights reserved.