INTEGRATED SYSTEM Balai KSDA Bengkulu

Search Here

FESTIVAL BUKIT KABA 2018 SUKSES DIGELAR

Bengkulu, 4 Desember 2018. Upaya penertiban peredaran Tumbuhan dan Satwa liar (TSL) di Provinsi Bengkulu terus gencar dilaksanakan oleh BKSDA Bengkulu. Bertempat di aula BKSDA Bengkulu kegiatan penyebaran informasi dan kampanye TSL yang dibuka langsung oleh Plt. Kepala BKSDA Bengkulu Dr. Suharno., S.Sos M.Si dan dihadiri 30 orang peserta dari berbagai kalangan antara lain Kepolisian Resort Kota Bengkulu, Para pecinta burung (Kicau mania), Penangkar, Pembudidaya, Kelompok mahasiswa pecinta alam, dan masyarakat umum, serta para pemenang Pemilihan Duta Bukit Kaba 2018 sebagai tambahan wawasan dalam mengemplementasikan tugas kedutaannya.

Beberapa materi yang disampaikan diantaranya tentang peraturan dan kebijakan dalam pengelolaan TSL, penangkaran TSL, SOP penangkaran TSL, dan tata kelola satwa liar dilindungi. Laksana gayung bersambut, antusias peserta dalam mengikuti seluruh materi yang disampaikan dan banyaknya pertanyaan maupun masukan khususnya tata cara dalam pengajuan dan pelaksanaan penangkaran maupun budidaya TSL. Dan adanya ajakan dari para Kicau Mania Bengkulu untuk turun ke lapangan bersama dalam kegiatan sosialisasi kepada para pecinta burung di Bengkulu, dan masyarakat banyak yang ingin mengajukan penangkaran namun kekurangtahuan masyarakat tentang tata caranya tersebut. Demikian juga peserta yang merupakan kelompok pecinta alam, mengajak BKSDA Bengkulu untuk bekerjasama dalam melakukan sosialisasi di Kampus.

Sebagai UPT yang mempunyai tugas pokok dan fungsi melakukan pengelolaan dan pengawasan TSL, BKSDA Bengkulu sangat mengapresiasi masukan, kritik dan saran dari para peserta sebagai bahan evaluasi. Sehingga diharapkan dari pelaksanaan kegiatan ini peredaran TSL di Provinsi Bengkulu lebih tertib dan kelestarian jenis dapat terjaga.

Sumber: Wahyu Purnama/PEH - Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 02 Mar 2019

PT. PLN SERAHKAN KUKANG HASIL EVAKUASI DARI JALUR LISTRIK

Bengkulu, 22 Oktober 2018. Beberapa waktu yang lalu BKSDA Bengkulu (Seksi Konservasi Wilayah III Lampung) menerima penyerahan 5 ekor Kukang sumatera (Nycticebus coucang). Satwa dilindungi yang disebut juga si malumalu ini diperoleh dari hasil patroli petugas Unit Layanan Pelanggan (ULP) PT. PLN Pringsewu bersama mitra PLN PT. Sarwa Karya Wiguna di Kabupaten Pringsewu dan Pesawaran, Provinsi Lampung.

“Menurut penuturan tim patroli PLN, kukang-kukang tersebut dievakuasi dari jalur/kabel listrik karena berpotensi menimbulkan kerusakan yang dapat berujung pada pemadaman di sejumlah wilayah,” kata Teguh Ismail (Kepala SKW III). Kejadian kukang tersengat listrik sering terjadi di sejumlah lokasi pada beberapa kabupaten di Provinsi Lampung. Berkenaan hal tersebut koordinasi dilakukan dengan pihak PT. PLN dan Yayasan IAR Indonesia sebagai NGO yang peduli pada konservasi satli kukang, guna mendapatkan solusi terbaik bagi satwa liar itu sendiri serta pelayanan kelistrikan kepada masyarakat tetap terpenuhi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal setelah diserhaterimakan kukang dalam kondisi sehat, baik secara fisik maupun perilaku dan untuk selanjutnya akan direhabilitasi sebelum dilepasliarkan ke lokasi habitat yang lebih aman.

Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 02 Mar 2019

PERINGATI ANIMAL WORLD DAY, BKSDA BENGKULU LEPAS TUKIK

Bengkulu, 10 Oktober 2018. Hari Satwa Sedunia atau World Animal Day yang diperingati setiap tanggal 4 Oktober, pada awalnya peringatan ini dimulai di Florence, Italia tahun 1931 yaitu pada konvensi para ahli ekologi. Tanggal 4 Oktober dipilih sebagai Hari Satwa Sedunia karena pada tanggal itu diadakan pesta perjamuan Francis of Assisi, seorang pecinta alam dan pelindung satwa dan lingkungan. Saat itu, perayaan Hari Satwa Sedunia dirayakan oleh seluruh penyayang satwa dari seluruh agama dan kepercayaan, kebangsaan, dan latar belakang. Tim penyelamat satwa dan berbagai organisasi satwa liar melakukan kegiatan pengumpulan dana, bazaar, dan sebagainya di berbagai sekolah dan tempat kerja. Di hari itu, mereka juga memberikan penghargaan terhadap individu, sekelompok orang, atau lembaga yang dianggap telah memberikan kontribusi terbaik pada dunia satwa.

Untuk turut memperingati hari tersebut BKSDA Bengkulu melepasliarkan 100 ekor tukik penyu jenis Lekang (Lepidochelys olivacea) yang berlokasi di pantai Taman Wisata Alam (TWA) Air Hitam. Pelepasan tukik oleh Plt. Kepala Balai KSDA Bengkulu bersama Gerakan Pramuka SMA 04 Mukomuko, didampingi oleh Polsek Pondok Suguh Mukomuko, Kepala Desa Se-Kecamatan Pondok Suguh, Kepala KPHK Seblat, Kepala Resort KSDA Air Hitam, Kepala Resort KSDA Seblat, Kepala Resort KSDA Air Rami, Kepala Resort KSDA Mukomuko, Kepala Urusan Program dan Kerjasama Balai KSDA Bengkulu, dan Kelompok Pemuda Pemudi Peduli Alam dan Lingkungan Hidup (KP3ALH) Air Hitam.

Tukik yang dilepasliarkan merupakan hasil dari program konservasi penyu di TWA Air Hitam yang dikemas dalam perjanjian kerjasama antara BKSDA Bengkulu dengan Yayasan SIPEF Indonesia Nomor: PKS.577/K.10/TU/PKS/03/2018 dan Nomor: 01/ENC-YSI/HO-III-2018 tentang Penguatan Fungsi kawasan melalui Konservasi Penyu di TWA Air Hitam Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu yang ditandatangani para pihak pada tanggal 14 Maret 2018 yang lalu, dengan kelompok masyarakat KP3ALH Air Hitam menjadi motor penggerak program ini.

Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 02 Mar 2019

Kukang Albino Korban Perdagangan Siap Dilepasliarkan

Bengkulu, 9 Oktober 2018. Kukang sumatera albino yang menjadi korban perdagangan dan kepemilikan ilegal di Lampung akhirnya siap dilepasliarkan kembali ke habitatnya di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Provinsi Lampung, Senin (8/10/2018). Sebelumnya, kukang ini telah menjalani pemeriksaan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu -Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III di Bandar Lampung.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu, Teguh Ismail mengatakan Sejak penyelamatannya, Jum’at (31/08/2018) lalu, kukang malang ini dirawat secara intensif untuk memulihkan kondisinya. Di samping itu, aktivitas, perilaku serta pakannya juga diamati untuk memastikan keadaannya pulih dan siap hidup bebas kembali di habitatnya. Dan berdasarkan pemeriksaan akhir tim medis, kukang sudah dalam kondisi baik dan siap ditranslokasi untuk menjalani habituasi di kawasan TNBBS. Paska lepasliar, kukang juga tetap dipantau untuk mengetahui pekembangan perilakunya hingga benar-benar bertahan hidup di alam. Untuk memudahkan pemantauan, kukang terlebih dahulu dipasang radio collar di bagian leher. Radio collar berfungsi sebagai pengirim sinyal yang nantinya ditangkap oleh antena dan menimbulkan bunyi di receiver. Bunyi yang keluar dari receiver itu membantu tim di lapangan untuk menemukan keberadaan kukang di alam.

Pelepasliaran kukang albino ini dilakukan atas inisiasi SKW III BKSDA Bengkulu bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan mendapatkan arahan dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE demi keberlangsungan dan kelestarian kukang di alam. Upaya ini juga dilakukan untuk memberikan kesempatan satwa korban perdagangan untuk kembali ke habitat aslinya sesuai dengan prinsip kesejahteraan satwa.

Meski kukang albino ini termasuk unik dan langka, dia tetap memiliki hak yang sama dengan satwa liar lainnya, yaitu berhak untuk hidup bebas di habitat alaminya. Tak hanya itu, dengan kembalinya kukang ke alam dapat memberikan manfaat dan menjalankan fungsi ekologis di suatu habitat sebagai mana mestinya sebagai pengendali hama dan penyerbuk alami.

Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 02 Mar 2019

Copyright © 2017 - 2019 Balai KSDA Bengkulu. All rights reserved.