INTEGRATED SYSTEM Balai KSDA Bengkulu

Search Here

BKSDA BENGKULU TERIMA PENYERAHAN 3 EKOR REPTIL

Bengkulu, 26 Juli 2018. PT. Bumi Mentari Karya perusahaan yang bergerak dalam pengolahan kelapa sawit yang berlokasi di Kecamatan Pondok Suguh Kabupaten Mukomuko menyerahkan 1 ekor Buaya Muara (Crocodylus porosus) dengan panjang 2,5 meter dan berat lebih kurang 15 Kg kepada BKSDA Bengkulu dalam hal ini diwakili Kepala Resort KSDA Air Hitam. Buaya tersebut ditangkap oleh pegawai PT. BMK di dalam kolam limbah anaerobic di dalam areal pabrik, berdasarkan informasi reptil tersebut kerap mengejar dan membahayakan pegawai perusahaan yang sedang melintas di sekitar kolam. Lokasi kolam limbah yang berdekatan dengan sungai Air Hitam yang merupakan habitat buaya muara sehingga reptil tersebut terkadang dapat memasuki kolam, yang diketahui sejak Januari 2018.

Dan pada hari yang sama Resort KSDA Air Hitam juga menerima penyerahan 2 ekor Ular Piton dari 2 warga yang berbeda. 1 ekor dengan panjang 5 m diserahkan oleh Bpk. Bardi warga Dusun Karya Desa Air Muring Kec Putri Hijau Kab. Bengkulu Utara, ditangkap sedang memangsa unggas peliharaan. Dan 1 ekor lagi dengan panjang 2,5 m dari Bpk. Predi warga Desa Air Muring Kec. Putri Hijau Kab. Bengkulu Utara.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada warga dan pihak yang telah peduli dan mendukung upaya konservasi dengan telah menyerahkan satwa liar dilindungi maupun tidak dilindungi dan tidak melukai atau bahkan membunuh satwa liar yang telah mengancam jiwa atau merugikan mereka. Setelah dilakukan observasi untuk selanjutnya reptil-reptil tersebut dilepasliarkan lagi ke habitatnya. BKSDA Bengkulu-Lampung juga menghimbau kepada masyarakat jika menemukan atau menjumpai tumbuhan dan satwa liar dilindungi dapat menghubungi call center BKSDA Bengkulu (+62 811-7388100) yang siaga 24 jam menerima aduan masyarakat.

Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 29 Jul 2018

IMPLEMENTASI PKS, PT. ALNO AGRO UTAMA SERAH TERIMAKAN SARPRAS MONITORING SATWA LIAR

Bengkulu, 22 Juli 2018. Bertempat di aula kantor Balai KSDA Bengkulu, pada selasa 17 Juli 2018 yang lalu PT. Alno Agro Utama telah melakukan  serah terima atas hibah sarana dan prasarana berupa Camera Trap Bushnell sebanyak 6 unit beserta perangkat pengamannya dan Camera Panasonic Lumix DMC FZ 2500 kepada Balai KSDA Bengkulu. Beberapa peralatan tersebut sebagai bentuk realisasi dari pelaksanaan kegiatan Perjanjian Kerjasama antara BKSDA Bengkulu dengan PT. Alno Agro Utama nomor: PKS.160/BKSDA.BKL-I/2014 dan nomor: 014/GM-5/I/2014 tanggal 29 Januari 2014  dalam rangka Optimalisasi Pengelolaan Taman Wisata Alam Seblat.

Selain menjadi rumah bagi satwa gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), kawasan TWA Seblat seluas 7.732,8 hektare juga merupakan habitat satwa langka lainnya antara lain harimau sumatra (Phantera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), beruang madu (Helarctos malayanus), dll. Dengan dihibahkannya beberapa peralatan pendukung monitoring satwa liar dimaksud, potensi dan keberadaan satwa liar khususnya yang dilindungi dapat terpantau populasinya. Sehingga kedepannya pengelolaan kawasan dan upaya pelestarian satwa liar dilindungi di dalamnya dapat lebih efektif dan maksimal.

 

Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 23 Jul 2018

BKSDA BENGKULU MEMENANGKAN GUGATAN ATAS KEPEMILIKAN HAK ATAS TANAH KAWASAN TWA

Bengkulu, 3 Mei 2018. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu menolak permohonan/gugatan Andry MT selaku Pemohon yang melawan: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Cq. Kepala Balai KSDA Bengkulu selaku Tergugat, pada Senin 25 Juni 2018 di PN Bengkulu Klas IA di Bengkulu.

Pemohon (Andry MT) melalui surat gugatannya tanggal 11 Januari 2018, yang didaftarkan di Kepaniteraan PN Bengkulu di bawah register perkara Nomor2/Pdt.G/2018/PN Bgl, telah mengajukan gugatan terhadap bidang tanah seluas + 2.000 m2 yang masuk dalam batas kawasan Taman Wisata Alam Pantai Panjangdan Pulau Baai sebagai pemilik sah dengan berlandaskan serifikat hak milik .

Lokasi obyek sengketa yang merupakan kawasan hutan yang telah ditetapkan sesuai peraturan perundang-undangan, maka Menteri Kehutanan (sekarang Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan), mempunyai kewenangan atributif (kewenangan yang merupakan perintah Undang-Undang) untuk mengatur segala sesuatu terkait hutan dan kawasan hutan. Sehingga tidak memerlukan izin dari dari pihak lain (in casu penggugat). Dengan demikian dalil penggungat yang menyatakan tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum adalah tidak berdasar hukum, sehingga harus ditolak. Selain itu kewenangan hukum dari penggugat dengan mengajukan gugatan dengan mendalihkan kepemilikan hak atas tanah nomor 3670/BU atas nama Zakaria telah dikuasakan untuk menjual kepadanya yang diberikan oleh ahli waris  tidak memiliki wewenang untuk melakukan tuntutan hak melalui pengadilan dengan dalih sebagai pemilik tanah dimaksud.

Dengan eksepsi tersebut maka pokok perkara serta bukti-bukti lain yang diajaukan penggugat tidak perlu dipertimbangkan lagi dan gugatan penggugat dinyatakan tidak dapat diterima. Bravo untuk Tim Kuasa Pembelaan atas gugatan kepemilikan lahan yang merupakan kawasan hutan konservasi di wilayah kerja BKSDA Bengkulu.

 

Sumber : Balai KSDA Bengkulu

Diposting oleh: Admin SITROOM, 23 Jul 2018

KONFLIK MAMALIA DARAT TERBESAR DI TANGGAMUS MASIH TERUS BERLANJUT

Bengkulu, 16 Juli 2018. Terhitung sejak Juni 2017 sampai dengan saat ini penanggulangan konflik satwa liar gajah sumatera dengan manusia di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung masih berlanjut. Beberapa desa di Kecamatan Semaka antara lain Way Kerep, Parda Waras, Srikaton, Karang Agung, Sidomulyo dan Tulung Asahan merupakan desa-desa yang terdampak konflik.

Track record selama 10 tahun terakhir keluarnya mamalia darat terbesar tersebut dari kawasan hutan lindung register 31 dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Kecamatan Semaka. Dimana tercatat pada tahun 2005 terdapat 3 – 4 ekor gajah pernah memasuki daerah pemukiman di Semaka, namun hanya dalam durasi 1 malam saja dan pada Tahun 2010 juga tercatat 1 ekor yang melewati areal persawahan itupun juga dalam durasi 1 malam.  Sedangkan saat ini durasi konflik yang terjadi dapat berlangsung sampai 1 minggu secara bergiliran pada 6 desa tersebut. 

Teridentifikasi kawanan gajah pada kelompok tersebut sebanyak 12 ekor, termasuk 2 anakan di dalamnya yang secara alami akan berdampak terhadap indukan gajah yang akan cenderung lebih agresif dari biasanya. Terganggunya habitat menjadi penyebab utama satwa liar berbelalai tersebut keluar dan menimbulkan konflik, selain faktor penyebab lainnya.

Upaya penanggulangan konflik telah dilakukan berupa penjagaan bersama secara bergiliran yang terdiri dari Tim Satgas Desa/Pekon, Balai Besar TNBBS, BKSDA, KPHL Kotaagung Utara, Pemda Kabupaten Tanggamus dan para mitra. Dan untuk memudahkan tim dalam memantau pergerakannya, pada tanggal 4 April 2018 pada salah satu gajah telah dipasang GPS Collar. Sehingga kawanan gajah dapat terdeteksi pergerakannya secara online dan kontinyu setiap 4 jam sekali.

Proses adaptasi terhadap kejadian dan dampak konflik, serta kapasitas masyarakat dan pihak terkait dalam melakukan mitigasi (pencegahan – penanganan – monitoring) menjadi tantangan yang harus disadari dan dibangun bersama oleh parapihak. Penanggulangan konflik tidak dapat dilakukan secara sendiri sendiri, namun perlu adanya kontribusi dan sinergitas para pihak dalam merumuskan upaya yang akan dilakukan serta aksi nyata di tingkat lapang.

 

Sumber : Balai KSDA Bengkulu

Diposting oleh: Admin SITROOM, 23 Jul 2018

Copyright © 2017 - 2019 Balai KSDA Bengkulu. All rights reserved.