INTEGRATED SYSTEM Balai KSDA Bengkulu

Search Here

SI MALU-MALU MASIH BERKELIARAN DI KABEL LISTRIK PLN

Lampung, 15 April 2020. Kukang sumatera (Nycticebus coucang) atau dikenal dengan satwa malu-malu ini berkeliaran dan berjalan di ranting pepohonan hutan merupakan hal yang sudah biasa, akan tetapi di Provinsi Lampung Kukang sumatera berjalan di kabel listrik dan berada di Gardu/trafo PLN yang bertegangan tinggi merupakan hal yang diluar kebiasaan dan masih menjadi pertanyaan penyebabnya.

Pada tahun 2020 ini pihak PLN dari beberapa unit layanan di Provinsi Lampung sudah beberapa kali menghubungi Call Center BKSDA Bengkulu (+628117388100) melaporkan telah mengevakuasi dan akan menyerahkan satwa liar dilindungi ini dan telah ditindaklanjuti oleh petugas Seksi Konservasi Wilayah III-Lampung. Sejak 1 Januari sampai dengan 15 April 2020 pihak PT. PLN telah menyerahkan 14 ekor kukang dan beberapa ekor terdapat luka bakar pada bagian tangan karena tersengat listrik dan untuk selanjutnya satwa tersebut dilakukan rehabilitasi dan pemeriksaan oleh dokter hewan dan petugas di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) BKSDA Bengkulu di Lampung sebelum dilepasliarkan kembali.

BKSDA Bengkulu dan pihak PT. PLN masih mencari penyebab dan solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah ketertarikan kukang melintasi kabel listrik dan berada di gardu milik PT. PLN. Berdasarkan keterangan PT. PLN bahwa pihaknya telah rutin melakukan kegiatan pemeliharaan dengan melakukan pemangkasan ranting-ranting pohon pada jalur yang yang dilintasi jaringan kabel dan hal tersebut seharusnya sudah dapat mencegah berpindahnya kukang. Semoga upaya-upaya yang telah dilakukan dapat menyelamatkan populasi satwa ini di alam.

Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 04 Jun 2020

SANG RAJA HUTAN MATI TERJERAT

Bengkulu, 19 Februari 2020. Pukul 22.30 BKSDA Bengkulu melalui petugas Seksi Konservasi Wilayah II menerima laporan dari masyarakat Desa Selingsingan Kec. Seluma Utara Kab. Seluma dan personil Polres Seluma, bahwa telah menemukan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) mati terjerat. Pada esok paginya Tim Wildlife Respon Unit (WRU) BKSDA Bengkulu bersama personil Polres Seluma serta masyarakat menuju lokasi untuk dilakukan evakuasi. 
Lokasi satwa dilindungi tersebut terjerat berada di dalam kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Bukit Badas, berjenis kelamin Betina dengan ukuran panjang tubuh 190 cm dan tinggi 70 cm diperkiran berusia ± 2 tahun, terjerat pada bagian leher dan diperkirakan mati terjerat sudah lebih dari 3 (tiga) hari. Dengan kondisi yang telah membusuk selanjutnya dievakuasi ke kantor BKSDA Bengkulu untuk diambil sampel uji DNA dan dokumentasi corak belang/lorengnya guna proses identifikasi dan selanjutnya dikuburkan. 
Ancaman perburuan menggunakan jerat menjadi pemicu utama kematian dan kehilangan individu Harimau Sumatera di Bengkulu. Berdasarkan data 2007-2020 Harimau korban jerat yg berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup oleh BKSDA Bengkulu sebanyak 6 ekor terdiri dari 1 ekor betina di Kab. Bengkulu Utara, 1 ekor betina di Kab. Mukomuko, 1 ekor jantan di Kab. Lebong; 1 ekor betina di Kab. Kaur; 1 ekor betina di Kab. Seluma dan 1 ekor jantan di Lampung. Dengan tingginya ancaman diharapkan kepada semua pihak untuk dapat terlibat dan mendukung dalam pelestarian satwa dilindungi endemik Pulau Sumatera ini.

Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 04 Jun 2020

ANAK KRAKATAU KEMBALI ERUPSI

Bengkulu, 13 April 2020. Pengamatan langsung terhadap aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) oleh petugas BKSDA Bengkulu dalam hal ini Seksi Konservasi Wilayah III Lampung KPHK Krakatau pada Kegiatan patroli rutin dan pengamanan kawasan yang dilakukan sehari sebelum erupsi, dilaporkan bahwa kawah mengeluarkan asap berwarna putih dan sesekali abu yang berwarna kelabu dengan intensitas sedang, ketinggian abu antara 100-200 meter di atas permukaan laut dan terutama terjadi pada waktu siang dan sore hari.

Dan pada tanggal 10 April 2020 pukul 21.58 WIB berdasarkan laporan dan pantauan CCTV milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Erupsi terekam dalam seismogram dimulai. Erupsi GAK terjadi terus menerus tanpa jeda berupa lontaran material pijar dan abu vulkanik hinggal 11 April 2020 pukul 05.00 WIB. Dimana menjelang pagi hari, aktivitas erupsi sudah mulai menurun dan berakhir pada pukul 08.15 WIB. Dengan kondisi ini status GAK berada pada Status Level II (Waspada) dengan rekomendasi tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

Kondisi pada saat erupsi berdasarkan informasi dan laporan petugas BKSDA Bengkulu yang berada di Desa Tejang Pulau Sebesi yang merupakan Desa terdekat dengan jarak 10 km dari GAK, pada malam hari itu terdengar suara gemuruh yang tidak terlalu kuat dan terlihat cahaya merah dari arah GAK. Abu vulkanik hasil erupsi sampai dan jatuh di sekitar Desa Tejang Pulau Sebesi dan bau belerang tercium cukup pekat. Menjelang pagi hari suara gemuruh itu sudah tidak terdengar lagi. Dan aktivitas masyarakat Desa Tejang Pulau Sebesi pada malam hari berjaga-jaga di sekitar pantai sedangkan pada pagi harinya masyarakat sudah beraktivitas normal seperti biasa.

Erupsi yang terjadi di tengah kecemasan adanya wabah virus COVID-19 dan pengalaman kelam erupsi yang terjadi pada tahun 2018 yang merenggut jiwa akibat bentukan gelombang tsunami yang menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda menimbulkan kecemasan. BKSDA Bengkulu selaku pengelola kawasan Cagar Alam dan Cagar Alam Laut Krakatau terus melakukan koordinasi dengan pihak PVMBG, BMKG dan BPPT serta bersama-sama dengan masyarakat melakukan monitoring dan pemantauan terhadap aktivitas GAK dan ikut menginformasikan kepada masyarakat melalui akun media sosial resmi BKSDA Bengkulu instagram dengan ID:@bksda_bengkulu  dan instagram KPHK Krakatau dengan ID: @krakatau_ca_cal. Dengan harapan informasi yang diberikan menjadikan masyarakat dapat lebih tenang dan tidak memperoleh informasi yang tidak benar dan meresahkan.  

 

Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 04 Jun 2020

DUKUNGAN PEMULIHAN EKOSISTEM DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Bengkulu, 12 April 2020. Ditengah Darurat Covid-19 tidak menyurutkan petugas BKSDA Bengkulu di tingkat tapak untuk terus mensosialisasikan dan melakukan pendekatan pentingnya fungsi kawasan konservasi terhadap masyarakat desa penyangga. Dari upaya tersebut beberapa waktu yang lalu membuahkan hasil dimana 2 orang penggarap lahan secara illegal di 2 kawasan konservasi secara sukarela menyerahkan kepada BKSDA untuk dilakukan pemulihan kembali.

Pada 7 April 2020 personil PEH dan Polhut gabungan dari Resort Ngalam Talo, Resort Karang Nanding, Resort Sukaraja, dan Personil Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II dengan dikoordinir langsung Kepala SKW II bersama Babinsa, Babinkamtibmas, Kepala dan Perangkat Desa Rawa Indah Kec. Ilir Talo Kab. Seluma, serta penggarap yang telah menyerahkan lahannya secara bersama-sama melakukan pemulihan ekosistem seluas 1,2 hektar di kawasan Cagar Alam Pasar Talo dengan melakukan penebangan tanaman non kehutanan berupa tanaman kelapa sawit. Penebangan dilakukan dengan menggunakan alat berat (excavator) milik masyarakat Desa Rawa Indah sebagai desa penyangga yang secara sukarela mengizinkan alat beratnya digunakan untuk kegiatan penebangan secara mandiri dan swadaya. Lokasi cagar alam yang berada di tepi pantai, pasca penebangan kemudian langsung dilakukan kegiatan penanaman dengan bibit Ketapang (Terminalia catappa) sebanyak 300 batang dan Cemara Pantai (Casuarina equisetifolia) sebanyak 100 batang, serta bibit Pinang (Arenga cathecu) sebanyak 100 batang yang ditanam di batas kawasan.

Dan pada keesokan harinya tim melanjutkan melakukan kegiatan pemulihan ekosistem pada kawasan Taman Buru Semidang Bukit Kabu yang juga merupakan implementasi dukungan kegiatan dari perjanjian kerjasama antara BKSDA Bengkulu dengan PT.Kusuma Raya Utama (PT. KRU). Pemulihan ekosistem pada lokasi kedua ini, penggarap lahan juga menyerahkan secara sukarela lahan garapannya seluas 3,5 hektar yang di dalamnya telah ditanami tanaman sawit kurang lebih 400 batang untuk dilakukan penertiban dan pemulihan. Penggarap dengan inisial US yang juga hadir pada saat kegiatan menjelaskan “Bahwa saya menyerahkan lahan yang yang telah saya garap selama ini secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari manapun, hal ini saya lakukan agar dapat dipulihkan kembali fungsinya sebagai hutan konservasi dan dapat memberikan manfaat kepada kami selaku masyarakat desa penyangga. Dan harapannya dapat diikuti oleh penggarap lainnya yang masih memanfaatkan lahan secara illegal di dalam kawasan”.

Penebangan dilakukan secara manual menggunakan Chainsaw dan kemudian langsung dilakukan kegiatan penanaman dengan bibit tanaman sebanyak 1400 batang berupa tanaman asli yaitu jenis Bayur (Pterospertum javanicum) serta tanaman lain bernilai ekologi dan ekonomi yang harapan nantinya hasil buahnya dapat dimanfaatkan.

Dari seluruh rangkaian dan tahapan kegiatan Pemulihan ekosistem pada kedua kawasan dalam pelaksanaannya tetap mengedepankan himbauan Pemerintah terkait upaya pencegahan dan penanggulangan Convid-19. Dan upaya-upaya pemulihan ekosistem akan terus dilakukan untuk mengembalikan fungsi kawasan konservasi lingkup BKSDA Bengkulu.

Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Diposting oleh: Admin SITROOM, 04 Jun 2020

Copyright © 2017 - 2020 Balai KSDA Bengkulu. All rights reserved.